Kebahagiaan Hakiki

 🐝 *Setetes Madu*

24 Desember 2020/ 09 Jumadil Awal 1442 H


Sahabat, setiap kita pastinya ingin mendapatkan dan merasakan kebahagiaan dimana pun, kapan pun, dan bagaimanapun keadaannya. Inilah kebahagiaan hakiki. 

Kebahagiaan hakiki bukanlah perasaan senang dan tenang karena memperoleh kenikmatan duniawi. Semisal, mendapatkan jabatan atau rupiah yang melimpah. 

Bukan itu. Karena kebahagiaan yang seperti itu mudah rusak dan hilang. Ketika rupiah nya berkurang, maka berkurang lah rasa bahagianya. 

Begitu pun dengan jabatan. Ketika jabatan nya hilang maka kebahagiaan yang datang karenanya pun akan hilang. Ini adalah kebahagiaan semu.

Kebahagiaan hakiki hadir bukan karena kenikmatan duniawi, melainkan karena hati merasakan kehadiran sang  pemberi nikmat yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, Allah Swt.

Karena duniawi sifatnya sementara, fana. Sedangkan Allah Swt bersifat abadi, kekal, tidak akan sirna dan tergoyahkan oleh apa pun  dan siapa pun. 

Itulah perbedaan bahagia karena kenikmatan duniawi dan karena hadirnya Allah Swt dalam hati. Bahagia karena duniawi, semu. Bahagia karena hati merasakan hadirnya Alloh, inilah kebahagiaan hakiki dan abadi. 

Sah-sah saja bahagia karena duniawi, asalkan cara memperolehnya benar dan halal. Inilah syukurnya orang awam.  Adapun bahagia karena merasakan hadirnya Allah Swt inilah rasa syukur tertinggi yang hanya dimiliki oleh orang-orang khusus yang sehat hatinya.

Hal itu sebagaimana perkataan Al-Khawash yang dikutip Abu Thalib Almakki dkk dalam bukunya "Belajar Berjiwa Besar" : 

"Ungkapan syukur yang umum adalah syukur terhadap anugerah makanan, pakaian, minuman dan kesenangan lainnya. Sedangkan bentuk syukur yang khusus adalah syukur terhadap suasana hati. Ungkapan syukur yang kedua ini merupakan tingkatan  tertinggi yang tidak dapat diraih oleh semua orang. Terlebih oleh mereka yang hanya melihat kenikmatan sebatas kenikmatan yang dirasakan oleh perut, kelamin, dan panca indra.

Sebab sesungguhnya hati yang sehat adalah hati yang tidak akan merasakan kenikmatan selain dengan cara berdzikir, dekat dengan Alloh, dan meyakini perjumpaan dengannya. Sebaliknya, hati yang merasakan kebahagiaan hanya karena kenikmatan duniawi dan indrawi hanyalah hati yang sakit. Orang sakit tidak akan bisa merasakan nikmat dan manisnya suatu makanan. Semuanya terasa pahit dan tidak enak. Begitu  gambaran suasana hati yang sakit."

Wallahu'alam. 

Selamat beraktifitas, sahabat. 

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan kita hidayah sehingga kita dapat merasakan dan memiliki kebahagiaan yang hakiki dan abadi.. Aamin yaa robbal alamin. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nyebut, Nyebut!

Yaa Allah Engkaulah Hambaku dan Akulah Tuhanmu

Virus Ini Lebih Harus Kita Waspadai